Wasiat #5
Bersoraklah, "Hidup Kekurangajaran!"
Ingat
Sebelum Membaca Ini, Setiap kata yang ada pada artikel ini merupakan
ciptaan dari Mas Ippho Santosa Sebagai Pakar Otak Kanan. !!! Saya
hanya berbagi bersama anda, kanapa saya membagikan tiap kata yang ada di
buku. Bukan intisarinya saja karena saya ingin pembaca sendiri yang
menarik kesimpulan atau inti dari bacaan ini.
Seorang pria yang jomblo puyeng memikirkan jodohnya. Untuk itu, ia curhat kepada Edward de Bono yang kononnya kratif dan solutif.
"Pak, saya mendambakan seorang gadis yang cantik, pintar, kaya, alim, dan setia. Bagaimana caranya, ya?" tanya si Jomblo. Nada suaranya terdengar gelisah.
"Oh, itu mudah saja. Selain Thinking Hats dan Action Shoes, saya juga punya formula baru. Namanya 3 B," papar Edward de Bono, " Apa kamu siap melaksanakannya?"
"Siap, Pak. Apa saja 3B itu?" kembali si Jomblo penasaran.
"B yang pertama, Berdoa," jelas Edward de Bono.
"Pak, bukannya saya takabur," ujar si Jomblo, "tetapi saya selalu berdoa, setidaknya lima kali sehari."
"Kalau begitu, kamu harus melakukan B yang kedua," lanjut Edward de Bono.
"Apa B yang kedua itu, Pak?" tanya si Jomblo penasaran.
"B yang kedua adalah Berusaha," Edward de Bono Meneruskan.
"Pak, bukannya melebih-lebihkan," ungkap si Jomblo, "tetapi saya selalu berusaha, siang-malam, pokonya kapan saja,"
Sambil manggut-manggut Edward de Bono berkata, "Kalau begitu, kamu harus melakukan B yang terakhir,"
"Apa B yang terakhir itu, Pak?" tanya si Jomblo Harap-harap cemas.
"B yang ketiga Bercermin," ucap Edward de Bono sambil meninggalkan si Jomblo.
Huahaha! Itu sih bukan kreatif namanya. Itu asal jawab namanya.
Memang, orang yang kreatif itu ditempeli label spesies langka, sehingga selalu diuber-uber. Padahal, tahukah Anda bahwa kreatif itu adalah salah satu sifat Tuhan? Bukankah Dialah yang Maha Mencipta, Yang Maha Melukis, dan Yang Maha Mengatur? Dengan demikian, disadari atau tidak manusia selaku hamba-Nya coba meniru sifat-sifat tersebut - tentu saja dengan kapasitasnya sebagai manusia. Persis seperti manusia yang meniru sifat-sifat Tuhan yang lain, semisal Yang Maha Pengasih, Yang Maha Adil, dan Yang Maha Bijaksana.
Perlu digarisbawahi tebal-tebal, sebagai salah satu inventori otak kanan yang paling berharga, kreativitas bukanlah semata-mata soal menguras ide, tetapi juga soal berburu solusi, membalikkan cara pandang, menggebrak perubahan, atau aktivitas sejenis. Contoh konkretnya, seorang ibu rumah tangga yang menata ulang perabot dirumahnya, seorang guru yang memboyong satu alat peraga yang unik di hadapan murid-muridnya, seorang atlet yang menjajal cara-cara baru untuk mendongkrak prestasinya, dan seorang pejabat yang menperjuangkan pembaharuan di daerahnya. Jadi, kreativitas bukan cuman mainannya penemu, pelukis, komposer, dan agensi periklanan, melainkan hak semua insan.
Omong-omong soal kreativitas, untuk penemuan mencuatlah nama Albert Einstein, Isaac Newton, Thomas Edison, dan Wright bersaudara. Untuk lukisan, nama Affandi, Michelangelo, dan Pablo Picasso. Untuk cerita, nama Helvy Tiana Rosa dan JK Rowling. Untuk puisi, nama Emha Ainun Nadjib, Neno Warisman, dan Soetardji Calzoum Bachri. Untuk lagu, nama Jennifer Lopez, Iwan Fals, dan Titiek Puspa. Untuk film, Mira Lesmana dan P. Ramlee. Untuk lawakan, nama Sys Ns dan Tukul Arwana. Untuk bisnis, nama Naomi Susilowati, Purdi Chandra, dan Sukanto Tanoto.
Dulu ketika saya pacaran dengan seorang gadis Tionghoa, ia meminta saya untuk mengirim SMS yang memuat kata-kata yang indah saban hari. Namanya pacar, yah, saya iyakan saja. Awal-awalnya sih tidak ada masalah. Tetapi lama-kelamaan saya kekeringan ide. Betul-betul pencekik ide. Lantas, apa yang saya lakukan? Akhirnya, saya mengetik beberapa template SMS. Sebelum dikirim, Templat-template tersebut saya kombinasikan sedemikian rupa, sehingga tidak terkesan daur ulang. Hasilnya? Dia pun happy. Kreatif 'kan? ( Sesudah membaca buku ini, mungkin dia Ngomel-ngomel, kerana tahu itu semua cuma permainan template! )
Nah, dimanakah letak urgensi kreativitas dalam bisnis praktis? Sebagai mantan pemasar di dalam dan luar negeri, sebagai mantan adviser dan trainer di puluhan institusi nasional, saya melihat sendiri bagaimana pasar beringsut, sebagian pelaku bisnis masih bersenjatakan strategi yang itu-itu saja. Kalau mentok, buntut-buntutnya anggaran promosi yang dihambur-hamburkan, bahkan harga yang dibanting! Ngawur dan ngelantur 'kan? Kebetulan, sederet tip kreatif tentang salesmanship dan entrepreneurship saya cecerkan di buku dan seminar 10 Jurus Terlarang!
Coba ceburi industri biskuit di tanah ari. Di dalamnya berkecamuk 185 perusahaan dan 400-an merek. Banyak? Bukan banyak lagi, tetapi buanyak. Dan itu belum termasuk merek-merek minor dan biskuit-biskuit tanpa merek. Betul-betul carut-marut! Betul-betul kalang kabut! Anda bisa sakit kepala ketika harus memilah dan memilih satu diferensiasi yang solid lagi valid.
Untuk itulah, Anda meniscayakan kreativitas, yang merupakan salah satu tingkatan dalam kesadaran supra. Soal strategi? Sama saja. Anda tetap perlu kreativitas. Mungkin melalui pemasaran gerilya, respositioning, reengineering, marketing intelligence, dan masih banyak lagi. Bagi saya, terobosan itu tidak selalu bermuara pada pemborosan. Dan tanpa terobosan, orang bisa bosan.
Contoh lain. Dicekam oleh persaingan, pelaku bisnis di negara maju malah mengincar nama dan tubuh manusia sebagai ajang promosi. Kreatif 'kan? Rupa-rupanya, gayung bersambut! Lihat saja, hampir 50 persen responden di Amerika mempertimbangkan untuk menamakan anaknya 'Coke' atau 'Kraft' dengan kompensasi setengah juta dolar.
Di film Resident Evil: Extinction yang dibintangi oleh Milla Jovovich, seorang gadis malah bernama 'Kmart'. Terkait logo, beberapa petensis wanita menawarkan diri untuk ditato temporer dan seorang petinju memiliki tato kasino yang permanen. Yah, walaupun bagi pengendara Harley-Davidson dan pemain skateboard, tato logo itu bukanlah barang baru. Suatu ketika, Widyarto Wiwied bahkan memamerkan tato C59 - bisnisnya sendiri kepada saya.
Satu contoh lagi. Museum Mercedes-Benz di Jerman sempat uring-uringan soal bahaya kebakaran di tempatnya. Asumsi mereka, anda ruwet, tanpa ribet. Terus, jalan keluarnya? Bukan Mercedes Benz namanya kalau tidak tahu jalan keluarnya. Maka dirancanglah tornado buatan, yang bisa mengalirkan asap kebakaran keluar dari ruangan dalam waktu sekitar tujuh menit. Tidak cukup sampai disitu, kreasi ini juga memecahkan rekor, lantaran dianggap tornado buatan terkuat di dunia. Kontroversial, bukan lagi konvensional. Gebrakan, bukan lagi gerakan. Ini baru Dahsyat!
Ketika pertama kali melamar kerja di indonesia, saya sempat ditodong dan diberondong lusinan pertanyaan oleh calon atasan saya di sebuah perusahaan. Salah satunya, "Teman Anda adalah seorang pelupa yang selalu menghilangkan pena. Nah, apa saran Anda untuk dia?" Pelamar yang lain menjawab, "Bisakan menaruhnya pada tempat sama," atau "Ikatlah dan hubungkan pada suatu tempat." Garing 'kan jawabannya? Banget! Pantas saja mereka tidak diterima.
Dan inilah jawaban saya, "Belilah pena yang sangat mahal, sehingga selalu teringat terus." Boleh-boleh saja Anda tidak setuju, tetapi lantaran jawaban yang kreatif itu saya diterima bekerja. Anda mau bilang apa? Sejak itu, tema saya mengatakan bahwa Ippho itu adalah singkatan: Idenya Paten-paten, Hasilnya Oke-Oke! Ah, bisa saja.
Berbekal Kreativitas, Johnny Adrean punya kisah sukses tersendiri. Berawal pada tahun 1978, namanya telah diduitin menjadi 170-an salon dan 40-an sekolah salon di seluruh Indonesia. Puaskah dirinya? Bukan Johnny Andrean namanya kalau begitu. Sebaliknya ia justru semakin agresif. Lihat saja, dengan tetap berpatok pada kreativitas, ia melebarkan sayap bisnis lainnya, semisal BreadTalk dan J.Co. Kalau BreadTalk adalah Premium boutique bakery yang memiliki 23 cabang dalam tiga tahun, maka J.Co adalah gerai donat plus kopi yang memiliki 13 cabang hanya dalam satu tahun. Betul-betul membludak dan meledak.
Apa latar belakangnya? Menurut Johnny, "Ibu saya seniman, tepatnya seorang penata rambut seperti saya. Sementara ayah saya adalah seorang pebisnis. Kedua tipe inilah yang mengalir di darah saya. Saya pikir-pikir kehidupan seniman itu lebih fun daripada pebisnis. Yah, bisnis terus-terus bisa membosangkan. Namun demikian, kalau hanya fun tetapi tidak melek bisnis, maka kita akan gagal."
Lanjutnya, "Kita lihat banyak seniman Indonesia yang karyanya tidak bisa keluar kandang. Pasalnya? Mereka tidak mampu membisniskan karnya dengan benar. Diluar negeri, seniman bisa membisniskan karyanya sampai sedemikian rupa, sehigga harganya mencapai milyaran. Itu 'kan bagus sekali. Jadi, bukannya saya lebih suka disebut sebagai seniman. Saya sih lebih suka disebut kedua-duanya - seniman berbisnis dan bisnis yang berseni. "Melalui bisnis-bisninya, diharapkan ia dapat meng-create gaya hidup yang baru. Kemudian menjadi tren. ( Di buku Begini Harusnya Bisnis! dibeberkan dari A sampai Z bagaimana Johnnya Andrean menuai sukses bermodalkan kreativitas. )
Begitulah, di satu sisi, menjadi kreatif itu memang tidak gampang. Namun di sisi lainnya, kreativitas bisa membuahkan kesuksesan yang mengejutkan dan menabjubkan. Terkait spiritualitas, Bill Gates malah mengusulkan Creative Capitalism di Forum Ekonomi Dunia 2008 di Swiss. Ciputra - seorang sesepuh properti sekaligus satu dari 10 tokoh bisnis paling berhasil di Indonesia menurutu majalah Forbes - pernah berargumen, "Bangsa yang maju adalah bangsa yang kreatif." Dan Jepang adalah salah satu di antaranya.
Resepnya apa sih? Nah, ini penting.Catatlah baik-baik, bangsa Jepang menjadi bangsa yang kreatif karena meraka membiasakan diri dengan gambar, musik, dan menulis huruf kanji sejak pra-sekolah sampai sekolah dasar. Hei, menulis ketimbang menulis. Mungkin, karena tiga kebiasaan itu pula, tanpa tedeng aling-aling sekolah dasar di Jepang menjadi sekolah terbaik di dunia. Wuih, huebat!
Teman saya, mantan pengarah program di sebuah radio, mengungkapkan kreativitas itu tidak bisa dicangkok dan tidak bisa dipaksakan. Yang mungkin dilakoni hanyalah memangcingnya agar muncul. Cuma itu. Berdasarkan pengalaman saya sebagai entrepreneur dan seniman, kerap kali krativitas berhubungan terbalik dengan rutinitas. Songsang!
Asal tahu saja, saya pribadi mengumpan kreativitas dengan menciptakan lagu untuk ANDALUS dan CELEBrand. Tidak jauh melenceng dari kebiasaan mahaguru pemasaran Philip Kotler. Via sebuah teleconference di Singapura, saya dengar sendiri pengakuannya, "Saya memoles kreativitas dengan menikmati karya-karya seni."
Dan lebih dari 2.000 tahun yang silam, Aristoteles mengamati kegeniusan hampir selalu digelayuti dengan kegilaan. Good must be crazy! Nah lho! Patutlah Albert Einstein pernah bersorak, "Hidup kekurangajaran! Ketahuilah, kekurangajaran adalah malaikat pembimbing saya di muka bumi ini." Of Course, kegilaan dan kekurangajaran yang dimaksudkan di sini adalah pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan yang kreatif.
Apa pun istilahnya, seluruh semesta sepakat kreativitaslah yang membuat kehidupan ini berbobot. Tanpanya, Anda, saya dan seluruh umat manusia tidak ubahnya seperti robot. Makanya mulai detik ini juga, bukalah pikiran Anda! "Englightening minds, expanding horizons," istilah toko buku gramedia.
Pernah suatu ketika, Richard Branson - Pemilik kerajaan bisnis Virgin - menemui bagian kredit di sebuah bank di New York.
"Saya ingin berbisnis ke Asia selama dua minggu," jelas Richard Branson gamblang. "Untuk itu, saya perlu pinjaman sebesar 7.500 dolar."
"Dengan senang hati kami akan membantu," ujar staf bagian kredit." Asalkan ada jaminannya."
"Sure! No problem," sahut Richard Branson dengna cepat. "Jaminannya adalah Ferrari saya yang terparkir di depan. Ini kuncinya. Boleh dicek."
Mengingat harga Ferrari itu 350.000 dolar, pihak bank langsung setuju. Lalu mobil mewah itu dipindahkan ke basement bank.
Dalam hati, staf bagian kredit menertawakan Richard Branson, "Kok mau-maunya menjaminkan Ferrari senilai 350.000 dolar untuk pinjaman sebesar 7.500. Dasar pengusaha konyol!"
Setelah dua minggu berselang, Richard Branson datang lagi. Usai melunasi uang pinjaman 7.500 dolar dan bunga sebesar 20 dolar, ia pun diperbolehkan membawa pulang Ferrari-nya.
Sambil menyetir meninggalkan bank, dalam hati Richard Branson berguman, "Here gini di New York, mana ada tempat parkir yang aman dan murah. Apalagi untuk mobil mewah. Kok mau-maunya bank itu menyediakannya. Dasar bank konyol!" Aha! Jelaslah sudah, siapa yang konyol. Richard Branson tadi lebih pas dan pantas disebut sosok yang kreatif. Aslinya, dia sama sekali tidak berniat untuk meminjam uang. Dia hanya ingin mencari tempat parkir yang aman dan murah untuk Ferrari-nya selama 2 minggu.
Lain halnya dengan pengalaman Joe Girard. Ia adalah seorang penjual yang bolak-balik memecahkan rekor dunia. Suatu saat, ia menawarkan sesuatu kepada seorang bapak-bapak, "Pak, apakah bapak bersedia membeli obat cuci mulut seharga 100 dolar?"
Si Bapak langsung menyergah, " Anda sudah gila, ya? Itu perampokan namanya!"
Pantang menyerah, Joe Girard mencoba lagi, "Baiklah, baiklah. Karena harganya terlalu mahal, maka saya diskon jadi 50 dolar. Bagaimana, pak?"
Lagi-lagi Si bapak berseru, "You must be crazy! Enyak dari hadapan saya!"
Joe Girard pun mengambil sesuatu dari kantongnya dan mengeluarkan dua bungkus permen. Dengan santun, ujarnya kepada si Bapak, "Pak, mohon maaf, kalau saya keterlaluan. Sebagai permohonan maaf dari saya, sudihlan Bapak menerima permen ini."
Si Bapak pun mengambil permen tersebut dan mengunyahnya. Tapi tiba-tiba si Bapak memuntahkan permen itu dan berteriak, "Hei! Permen kok rasanya kayak tahi!"
"Memang, Pak," ucap Joe Girard santai. "Sekarang Bapak mau beli obat cuci mulutnya 'kan?"
Pengalaman Paris Hilton lain lagi. Ketika syuting Simple Life di pedesaan, ia mengamati tomat merah yang siap dipetik milik seorang petani.
"Saya akan membayar Anda dua sen untuk tomat itu," ujar Paris Hilton sambil menunjuk sebuah tomat merah yang siap dipetik milik seorang petani.
"No way," tampik si Petani. "Saya bisa mendapat lima sen untuk tomat seperti itu."
Lalu, Paris Hilton menunjuk sebuah tomat yang kecil yang masih hijau, "Bagaimana dengan yang itu, dua sen boleh?"
"Oh, kalau itu, bolehlah," sahut si Petani. "Saya akan memberikan tomat itu seharga dua sen."
"Great!" seru Paris Hilton. Mengakhiri jual-beli, lantas ia menaruh dua sen di atas tangan si Petani seraya berkata, "Saya akan petik tomat itu satu minggu lagi. See You!"
Hahaha! Ketiga cerita tersebut memang fiktif. Seratus persen. Tetapi, saya pikir lumayan kreatif dan inspiratif. Mudah-mudahan pikiran Anda terbuka karenanya dan Anda tidak takut lagi menjajal cara-cara yang berbeda. Saya pribadi tidak pernah menyisir rambut semenjak September 2000 sampai sekarang. Sudah delapan tahun, bo! Kalau ditanya sebabnya, saya jawab saja, " Memangnya harus?" Sebuah lagu lama lantang berseru, "I did it my way."
Ingatlah selalu wasiat yang kelima ini dan dengarlah pendapat Galileo Galilei, "Otoritas seribu orang tidaklah setara dengan logika sederhana individu." Begitu teguh ia memegang pendapatnya itu, sampai-sampai karena itu gereja menjebloskannya ke dalam penjara. Yah, kita jangan sampai begitulah. Get it right, man!.
Perlu digarisbawahi tebal-tebal, sebagai salah satu inventori otak kanan yang paling berharga, kreativitas bukanlah semata-mata soal menguras ide, tetapi juga soal berburu solusi, membalikkan cara pandang, menggebrak perubahan, atau aktivitas sejenis. Contoh konkretnya, seorang ibu rumah tangga yang menata ulang perabot dirumahnya, seorang guru yang memboyong satu alat peraga yang unik di hadapan murid-muridnya, seorang atlet yang menjajal cara-cara baru untuk mendongkrak prestasinya, dan seorang pejabat yang menperjuangkan pembaharuan di daerahnya. Jadi, kreativitas bukan cuman mainannya penemu, pelukis, komposer, dan agensi periklanan, melainkan hak semua insan.
Omong-omong soal kreativitas, untuk penemuan mencuatlah nama Albert Einstein, Isaac Newton, Thomas Edison, dan Wright bersaudara. Untuk lukisan, nama Affandi, Michelangelo, dan Pablo Picasso. Untuk cerita, nama Helvy Tiana Rosa dan JK Rowling. Untuk puisi, nama Emha Ainun Nadjib, Neno Warisman, dan Soetardji Calzoum Bachri. Untuk lagu, nama Jennifer Lopez, Iwan Fals, dan Titiek Puspa. Untuk film, Mira Lesmana dan P. Ramlee. Untuk lawakan, nama Sys Ns dan Tukul Arwana. Untuk bisnis, nama Naomi Susilowati, Purdi Chandra, dan Sukanto Tanoto.
Dulu ketika saya pacaran dengan seorang gadis Tionghoa, ia meminta saya untuk mengirim SMS yang memuat kata-kata yang indah saban hari. Namanya pacar, yah, saya iyakan saja. Awal-awalnya sih tidak ada masalah. Tetapi lama-kelamaan saya kekeringan ide. Betul-betul pencekik ide. Lantas, apa yang saya lakukan? Akhirnya, saya mengetik beberapa template SMS. Sebelum dikirim, Templat-template tersebut saya kombinasikan sedemikian rupa, sehingga tidak terkesan daur ulang. Hasilnya? Dia pun happy. Kreatif 'kan? ( Sesudah membaca buku ini, mungkin dia Ngomel-ngomel, kerana tahu itu semua cuma permainan template! )
Nah, dimanakah letak urgensi kreativitas dalam bisnis praktis? Sebagai mantan pemasar di dalam dan luar negeri, sebagai mantan adviser dan trainer di puluhan institusi nasional, saya melihat sendiri bagaimana pasar beringsut, sebagian pelaku bisnis masih bersenjatakan strategi yang itu-itu saja. Kalau mentok, buntut-buntutnya anggaran promosi yang dihambur-hamburkan, bahkan harga yang dibanting! Ngawur dan ngelantur 'kan? Kebetulan, sederet tip kreatif tentang salesmanship dan entrepreneurship saya cecerkan di buku dan seminar 10 Jurus Terlarang!
Coba ceburi industri biskuit di tanah ari. Di dalamnya berkecamuk 185 perusahaan dan 400-an merek. Banyak? Bukan banyak lagi, tetapi buanyak. Dan itu belum termasuk merek-merek minor dan biskuit-biskuit tanpa merek. Betul-betul carut-marut! Betul-betul kalang kabut! Anda bisa sakit kepala ketika harus memilah dan memilih satu diferensiasi yang solid lagi valid.
Untuk itulah, Anda meniscayakan kreativitas, yang merupakan salah satu tingkatan dalam kesadaran supra. Soal strategi? Sama saja. Anda tetap perlu kreativitas. Mungkin melalui pemasaran gerilya, respositioning, reengineering, marketing intelligence, dan masih banyak lagi. Bagi saya, terobosan itu tidak selalu bermuara pada pemborosan. Dan tanpa terobosan, orang bisa bosan.
Contoh lain. Dicekam oleh persaingan, pelaku bisnis di negara maju malah mengincar nama dan tubuh manusia sebagai ajang promosi. Kreatif 'kan? Rupa-rupanya, gayung bersambut! Lihat saja, hampir 50 persen responden di Amerika mempertimbangkan untuk menamakan anaknya 'Coke' atau 'Kraft' dengan kompensasi setengah juta dolar.
Di film Resident Evil: Extinction yang dibintangi oleh Milla Jovovich, seorang gadis malah bernama 'Kmart'. Terkait logo, beberapa petensis wanita menawarkan diri untuk ditato temporer dan seorang petinju memiliki tato kasino yang permanen. Yah, walaupun bagi pengendara Harley-Davidson dan pemain skateboard, tato logo itu bukanlah barang baru. Suatu ketika, Widyarto Wiwied bahkan memamerkan tato C59 - bisnisnya sendiri kepada saya.
Satu contoh lagi. Museum Mercedes-Benz di Jerman sempat uring-uringan soal bahaya kebakaran di tempatnya. Asumsi mereka, anda ruwet, tanpa ribet. Terus, jalan keluarnya? Bukan Mercedes Benz namanya kalau tidak tahu jalan keluarnya. Maka dirancanglah tornado buatan, yang bisa mengalirkan asap kebakaran keluar dari ruangan dalam waktu sekitar tujuh menit. Tidak cukup sampai disitu, kreasi ini juga memecahkan rekor, lantaran dianggap tornado buatan terkuat di dunia. Kontroversial, bukan lagi konvensional. Gebrakan, bukan lagi gerakan. Ini baru Dahsyat!
Ketika pertama kali melamar kerja di indonesia, saya sempat ditodong dan diberondong lusinan pertanyaan oleh calon atasan saya di sebuah perusahaan. Salah satunya, "Teman Anda adalah seorang pelupa yang selalu menghilangkan pena. Nah, apa saran Anda untuk dia?" Pelamar yang lain menjawab, "Bisakan menaruhnya pada tempat sama," atau "Ikatlah dan hubungkan pada suatu tempat." Garing 'kan jawabannya? Banget! Pantas saja mereka tidak diterima.
Dan inilah jawaban saya, "Belilah pena yang sangat mahal, sehingga selalu teringat terus." Boleh-boleh saja Anda tidak setuju, tetapi lantaran jawaban yang kreatif itu saya diterima bekerja. Anda mau bilang apa? Sejak itu, tema saya mengatakan bahwa Ippho itu adalah singkatan: Idenya Paten-paten, Hasilnya Oke-Oke! Ah, bisa saja.
Berbekal Kreativitas, Johnny Adrean punya kisah sukses tersendiri. Berawal pada tahun 1978, namanya telah diduitin menjadi 170-an salon dan 40-an sekolah salon di seluruh Indonesia. Puaskah dirinya? Bukan Johnny Andrean namanya kalau begitu. Sebaliknya ia justru semakin agresif. Lihat saja, dengan tetap berpatok pada kreativitas, ia melebarkan sayap bisnis lainnya, semisal BreadTalk dan J.Co. Kalau BreadTalk adalah Premium boutique bakery yang memiliki 23 cabang dalam tiga tahun, maka J.Co adalah gerai donat plus kopi yang memiliki 13 cabang hanya dalam satu tahun. Betul-betul membludak dan meledak.
Apa latar belakangnya? Menurut Johnny, "Ibu saya seniman, tepatnya seorang penata rambut seperti saya. Sementara ayah saya adalah seorang pebisnis. Kedua tipe inilah yang mengalir di darah saya. Saya pikir-pikir kehidupan seniman itu lebih fun daripada pebisnis. Yah, bisnis terus-terus bisa membosangkan. Namun demikian, kalau hanya fun tetapi tidak melek bisnis, maka kita akan gagal."
Lanjutnya, "Kita lihat banyak seniman Indonesia yang karyanya tidak bisa keluar kandang. Pasalnya? Mereka tidak mampu membisniskan karnya dengan benar. Diluar negeri, seniman bisa membisniskan karyanya sampai sedemikian rupa, sehigga harganya mencapai milyaran. Itu 'kan bagus sekali. Jadi, bukannya saya lebih suka disebut sebagai seniman. Saya sih lebih suka disebut kedua-duanya - seniman berbisnis dan bisnis yang berseni. "Melalui bisnis-bisninya, diharapkan ia dapat meng-create gaya hidup yang baru. Kemudian menjadi tren. ( Di buku Begini Harusnya Bisnis! dibeberkan dari A sampai Z bagaimana Johnnya Andrean menuai sukses bermodalkan kreativitas. )
Begitulah, di satu sisi, menjadi kreatif itu memang tidak gampang. Namun di sisi lainnya, kreativitas bisa membuahkan kesuksesan yang mengejutkan dan menabjubkan. Terkait spiritualitas, Bill Gates malah mengusulkan Creative Capitalism di Forum Ekonomi Dunia 2008 di Swiss. Ciputra - seorang sesepuh properti sekaligus satu dari 10 tokoh bisnis paling berhasil di Indonesia menurutu majalah Forbes - pernah berargumen, "Bangsa yang maju adalah bangsa yang kreatif." Dan Jepang adalah salah satu di antaranya.
Resepnya apa sih? Nah, ini penting.Catatlah baik-baik, bangsa Jepang menjadi bangsa yang kreatif karena meraka membiasakan diri dengan gambar, musik, dan menulis huruf kanji sejak pra-sekolah sampai sekolah dasar. Hei, menulis ketimbang menulis. Mungkin, karena tiga kebiasaan itu pula, tanpa tedeng aling-aling sekolah dasar di Jepang menjadi sekolah terbaik di dunia. Wuih, huebat!
Teman saya, mantan pengarah program di sebuah radio, mengungkapkan kreativitas itu tidak bisa dicangkok dan tidak bisa dipaksakan. Yang mungkin dilakoni hanyalah memangcingnya agar muncul. Cuma itu. Berdasarkan pengalaman saya sebagai entrepreneur dan seniman, kerap kali krativitas berhubungan terbalik dengan rutinitas. Songsang!
Asal tahu saja, saya pribadi mengumpan kreativitas dengan menciptakan lagu untuk ANDALUS dan CELEBrand. Tidak jauh melenceng dari kebiasaan mahaguru pemasaran Philip Kotler. Via sebuah teleconference di Singapura, saya dengar sendiri pengakuannya, "Saya memoles kreativitas dengan menikmati karya-karya seni."
Dan lebih dari 2.000 tahun yang silam, Aristoteles mengamati kegeniusan hampir selalu digelayuti dengan kegilaan. Good must be crazy! Nah lho! Patutlah Albert Einstein pernah bersorak, "Hidup kekurangajaran! Ketahuilah, kekurangajaran adalah malaikat pembimbing saya di muka bumi ini." Of Course, kegilaan dan kekurangajaran yang dimaksudkan di sini adalah pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan yang kreatif.
Apa pun istilahnya, seluruh semesta sepakat kreativitaslah yang membuat kehidupan ini berbobot. Tanpanya, Anda, saya dan seluruh umat manusia tidak ubahnya seperti robot. Makanya mulai detik ini juga, bukalah pikiran Anda! "Englightening minds, expanding horizons," istilah toko buku gramedia.
Pernah suatu ketika, Richard Branson - Pemilik kerajaan bisnis Virgin - menemui bagian kredit di sebuah bank di New York.
"Saya ingin berbisnis ke Asia selama dua minggu," jelas Richard Branson gamblang. "Untuk itu, saya perlu pinjaman sebesar 7.500 dolar."
"Dengan senang hati kami akan membantu," ujar staf bagian kredit." Asalkan ada jaminannya."
"Sure! No problem," sahut Richard Branson dengna cepat. "Jaminannya adalah Ferrari saya yang terparkir di depan. Ini kuncinya. Boleh dicek."
Mengingat harga Ferrari itu 350.000 dolar, pihak bank langsung setuju. Lalu mobil mewah itu dipindahkan ke basement bank.
Dalam hati, staf bagian kredit menertawakan Richard Branson, "Kok mau-maunya menjaminkan Ferrari senilai 350.000 dolar untuk pinjaman sebesar 7.500. Dasar pengusaha konyol!"
Setelah dua minggu berselang, Richard Branson datang lagi. Usai melunasi uang pinjaman 7.500 dolar dan bunga sebesar 20 dolar, ia pun diperbolehkan membawa pulang Ferrari-nya.
Sambil menyetir meninggalkan bank, dalam hati Richard Branson berguman, "Here gini di New York, mana ada tempat parkir yang aman dan murah. Apalagi untuk mobil mewah. Kok mau-maunya bank itu menyediakannya. Dasar bank konyol!" Aha! Jelaslah sudah, siapa yang konyol. Richard Branson tadi lebih pas dan pantas disebut sosok yang kreatif. Aslinya, dia sama sekali tidak berniat untuk meminjam uang. Dia hanya ingin mencari tempat parkir yang aman dan murah untuk Ferrari-nya selama 2 minggu.
Lain halnya dengan pengalaman Joe Girard. Ia adalah seorang penjual yang bolak-balik memecahkan rekor dunia. Suatu saat, ia menawarkan sesuatu kepada seorang bapak-bapak, "Pak, apakah bapak bersedia membeli obat cuci mulut seharga 100 dolar?"
Si Bapak langsung menyergah, " Anda sudah gila, ya? Itu perampokan namanya!"
Pantang menyerah, Joe Girard mencoba lagi, "Baiklah, baiklah. Karena harganya terlalu mahal, maka saya diskon jadi 50 dolar. Bagaimana, pak?"
Lagi-lagi Si bapak berseru, "You must be crazy! Enyak dari hadapan saya!"
Joe Girard pun mengambil sesuatu dari kantongnya dan mengeluarkan dua bungkus permen. Dengan santun, ujarnya kepada si Bapak, "Pak, mohon maaf, kalau saya keterlaluan. Sebagai permohonan maaf dari saya, sudihlan Bapak menerima permen ini."
Si Bapak pun mengambil permen tersebut dan mengunyahnya. Tapi tiba-tiba si Bapak memuntahkan permen itu dan berteriak, "Hei! Permen kok rasanya kayak tahi!"
"Memang, Pak," ucap Joe Girard santai. "Sekarang Bapak mau beli obat cuci mulutnya 'kan?"
Pengalaman Paris Hilton lain lagi. Ketika syuting Simple Life di pedesaan, ia mengamati tomat merah yang siap dipetik milik seorang petani.
"Saya akan membayar Anda dua sen untuk tomat itu," ujar Paris Hilton sambil menunjuk sebuah tomat merah yang siap dipetik milik seorang petani.
"No way," tampik si Petani. "Saya bisa mendapat lima sen untuk tomat seperti itu."
Lalu, Paris Hilton menunjuk sebuah tomat yang kecil yang masih hijau, "Bagaimana dengan yang itu, dua sen boleh?"
"Oh, kalau itu, bolehlah," sahut si Petani. "Saya akan memberikan tomat itu seharga dua sen."
"Great!" seru Paris Hilton. Mengakhiri jual-beli, lantas ia menaruh dua sen di atas tangan si Petani seraya berkata, "Saya akan petik tomat itu satu minggu lagi. See You!"
Hahaha! Ketiga cerita tersebut memang fiktif. Seratus persen. Tetapi, saya pikir lumayan kreatif dan inspiratif. Mudah-mudahan pikiran Anda terbuka karenanya dan Anda tidak takut lagi menjajal cara-cara yang berbeda. Saya pribadi tidak pernah menyisir rambut semenjak September 2000 sampai sekarang. Sudah delapan tahun, bo! Kalau ditanya sebabnya, saya jawab saja, " Memangnya harus?" Sebuah lagu lama lantang berseru, "I did it my way."
Ingatlah selalu wasiat yang kelima ini dan dengarlah pendapat Galileo Galilei, "Otoritas seribu orang tidaklah setara dengan logika sederhana individu." Begitu teguh ia memegang pendapatnya itu, sampai-sampai karena itu gereja menjebloskannya ke dalam penjara. Yah, kita jangan sampai begitulah. Get it right, man!.
RIGHT POINT #5 CREATIVITY
Pastilah pembaca sekalian setuju kalau kreativitas sangat penting untuk mewarnai hidup kita. Karena tanpa kreativitas sudah di sebut tadi bahwa membuat manusia hanya seperti robot saja yang bergerak secara sistematis. Terimakasih, silahkan lanjutkan ke Point selanjutnya.
Wasiat #6 "Abaikan Gutemberg, Sambutlah Spielberg"

0 Response to "Peluang Usaha Dengan 13 Wasiat Terlarang 5"
Post a Comment