Peluang Usaha Dengan 13 Wasiat Terlarang 1

Wasiat #1

Pertama - Tama, Tertawalah

tertawa





Ingat Sebelum Membaca Ini, Setiap kata yang ada pada artikel ini merupakan ciptaan dari Mas Ippho Santosa Sebagai Pakar Otak Kanan. !!! Saya hanya berbagi bersama anda, kanapa saya membagikan tiap kata yang ada di buku. Bukan intisarinya saja karena saya ingin pembaca sendiri yang menarik kesimpulan atau inti dari bacaan ini.

Selama bertahun - tahun, Jaka Tarub merawat tiga bidadari yang sakit jiwa - Si Cantik, Si Genit, Dan Si Kalem. ( Dongeng seperti ini, memangnya ada? ) Suatu ketika, Jaka Tarub ingin menguji kewarasanya ketiga - tiganya. Maka, diboyonglah ketiga bidadari itu ke sebuah telaga yang kering - tidak ada airnya sama sekali. Rupa - rupanya Jaka Tarub ingin menguji bagaimana tanggapan mereka.
Begitu tiba di pinggir telaga, Si Cantik langsung melepaskan kebayanya dan berlagak mandi. Tidak mau ketinggalan Si Genit, pun melepaskan kebayanya dan berlagak mencuci pakaian.
"Huh, dasar bidadari-bidadari gendeng!" tukas Jaka Tarub, "Airnya tidak ada, eh, malah mandi, malah mencuci."
Bagaimana dengan si Kalem? Tampaknya, bidadari yang satu ini sedikit menyesalkan tingkah kedua sahabatnya. Tidak lama kemudian, ia pun turun kedalam telaga. Ia berjalan biasa. Sepertinya ia sadar telaga itu tidak airnya.
Sambil menarik - narik kedua lengan sahabatnyam, Si Kalem menyergah, "Sudah-sudah! Kalian ini bikim malu saja! Ayo balik!" Dengan setengah hati, kedua bidadari itu pun keluar dari telaga dan memakai kembali kebayanya.
Melihat kejadian tersebt, Jaka Tarub tersenyum, "Syukurlah! Ternyata, tidak semua bidadari masih gila. Kayaknya, Si Kalem sudah waras. Dia tidak ikut - ikutan mandi dan mencuci. Malah, dia mengingatkan kedua sahabatnya. Hm, Besok akan saya antar dia kembali ke khayangan."
Esoknya pagi-pagi Jaka Tarub memanggil si Kalem, "Aku ada dua kabar untukmu. Satu kabar baik, satu kabar buruk."
"Apa kabar baiknya, Jaka?" tanya si Kalem.
"Pertama, kamu sudah sembuh dan kamu segera kembali ke khayangan," Jelas Jaka Tarub.
"Terus kabar buruknya?" kembali si Kalem bertanya.
"Kuatkan hatimu, ya!" Setelah menghela napas sejenak, Jaka Tarub melanjutkan, "Ternyata, Si Cantik dan Si Genit telah mendahului kita. Mereka gantung diri."
Suasana sempat hening sekian detik.
Sampailah si Kalem berujar, "Sebenarnya, Jaka salah paham. Mereka tidak gantung diri kok."
"Hm, Kamu tau dari mana?" giliran Jaka Tarub yang bertanya.
"Aku yang menggantung mereka," sahut Si Kalem dengan tenangnya.
"Hah?" Jaka Tarub langsung terperanjat, "Kenapa?"
"Begini, Jaka," Sambung si Kalem, "Kemarin mereka kan basah basah dari telaga. Nah supaya lekas kering, yah aku gantung saja mereka."
Jaka Tarup pun bungkam seribu bahasa. Dalam hari ia bergumam, "Ternyata, Si Kalem masih gila! Bahkan lebih gila daripada si Cantik dan si Genit!"
Huahaha! Hikayat konyol!
Meracik dan menyantap gurauan (humor), itulah salah satu keistimewaan dari otak kanan. Hebatnya lagi, sewaktu Anda tertawa karena gurauan, maka pada waktu yang sama anda mengasah kemampuan otak kanan. Kok bisa? Pasalnya, saat Anda tertawa, otak kiri anda tidak bisa berpikir. Dan itu artinya, otak kanan Anda bagian otak yang memiliki potensi tanpa batas itu - leluasa melahap gurauan demi gurauan. Dengan demikian, jadilah Anda orang kanan, walaupun hanya sesaat.
Kebalikannya, orang kiri menuding gurauan, permainan, cerita, dan kiasan itu cuman buang - buang waktu saja. Pendek kata, terlarang! Sekiranya Lord Of The Rings dan Die Hard diterjemahkan menjadi Juragan Cincin dan Gak Ada Matinya, alih - alih tertawa, orang kiri yang berpikir apa adanya malah mendengus, "Huh, ngga ngerti Bahasa Inggris Apa!" Bahkan, ketika orang kanan menganggap buku ini sebagai suatau pencerahan, maka orang kiri menganggap buku ini sebagai suatu pendangkalan. Maklum saja, mereka anti dengan sengala macam bentuk kejutan dan kejanggalan.
Iseng - iseng, saya mau tanya. Apa yang berkelebat di benak Anda, saat saya sebutkan '1825 sampai 1830'? Kebanyakan orang spontan berseru, "Perang Diponegoro!" Akan tetapi, orang yang humoris mungkin saja nyeletuk, "itu 'kan waktu magrib untuk jakarta dan sekitarnya." Hehehe! Begitulah, gurauan itu menggelitik, Kadang mengusik tapi tetap asyik.
Lebih jauh lagi, tahukah Anda acara televisi apa yang paling banyak membelot mata di seluruh dunia? Berdasarkan hasil survei, rupanya sepak bola bercokol pada posisi puncak. Pasisi berikutnya? Coba tebak! Percaya tak percaya, ternyata film kartun Spongebob SquarePants rekaan Stephen Hillenburg, seorang ahli biologi kelautan yang kebetulan keranjingan mengotak atik animasi. Untuk sekian tahun, inilah tanyangan yang paling dikangeni kemunculannya - selain pertandingan sepak bola. Dan apa kata kuncinya? Gurauan.
Boleh dicatat, sekarang terdapat sekitar 2.500 Klub tertawa di dunia dan Rumah Sakit Dharma Graha di Tangerang telah menerapkan terati tawa sejak tahun 1999. Pasti ada alasannya dong. Rupa - rupanya, selain bermanfaat secara psikologis, tertawa bermanfaat pula secara biologis. Katakanlah, mengurangi kerasnya detak jantung akibat stres, mengurangi sakit akibat radang sendi dan kejang otot, meningkatkan kapasitas paru - paru, meningkatkan daya tahan tubuh, dan melancarkan peredaran darah. 
Cuman itu? Tidak juga. Tertawa kerap pula bersanding dengan imajinasi, empati, keramahtamahan, dan sintesi - yang semuanya berakar pada otak kanan. Oleh karena itulah, Garuda Indonesia memutar Just For Laugh di pesawatnya. Oleh karena itu pula, sebagai pelanggan Telkomsel Prioritas, saban hari saya men-download konten joke, bukannya berita ekonomi. Dengan harapan, saya dapat tertawa - tawa kecil. Deddy mizwar, Iwan Fals, Jefri Al-Buchory, P. Ramlee, Purdi Chandra, Soetardji Calzoum Bachri, dan Sys Ns adalah sederet tokoh yang senantiasa membubui karya - karyanya dengan gurauan ( Eh, saja juga ).
Well, walau bagaimanapun, semua orang mengamini bahwa kehadiran orang yang suka tertawa lebih ditunggu-tunggu daripada orang yang suka cemberut. Barangkali inilah yang menyebabkan sang sanguinis makin kuat otak kanannya dan sang melankolis makin kuat otak kirinya. Disamping itu, telah terbukti eksekutif-eksekutif paling efektif acap kali menyelipkan dan menyisipkan gurauan. Tambahan pula, di antara beragam appeal iklan, gurauan dan seks adalah appeal yang paling greget. Dahasyat kan?
Lihatlah orang jawa. Hm, kok bawa - bawa orang jawa segala? Begini, mereka sudah terbiasa dengan kehadiran pelawak semenjak zaman kerajaan. Yah, Anda tidak perlu sekocak Tukul Arwana (pst, berbekal gurauan, tarifnya sempat mengejar David Beckham lho). Namun, sekali waktu, cobalah bergurau dengan lawan bicara Anda. Apakah anda berprofesi sebagai pengusaha, perawat, pengajar, penyanyi, atau profesi apa saja yang mengharuskan people contact. Tentunya, gurauan mesti mencermati sikon. Bayangkan saja Anda bersanda-gurau dan terbahak-bahak di sebuah pemakaman semua mata - kecuali mata mayat bisa mendelik ke arah anda.
"Saudara Penulis, profesi saya tidak mengharuskan people contact. Bagaimana ini?" Mungkin ada keluhan seperti itu. Lantas, apa jawaban saya? "Lha, itu kan urusan anda. Memangnya saya pikirin." Hehehe, saya bercanda. Jangan buru - buru tutup buku ini. Dengarkan dulu saran saya, "Cobalah bergurau dengan diri anda sendiri dan cobalah untuk tertawa."
Bahkan sesekali anda boleh meniru anak kecil. Hm, tidak salah tuh? Buku ini sudah diedit oleh Elex Media Komputindo berulang kali. Rasa - rasanya, tidak mungkin isinya ngawur dan ngelantur. Anak kecil di mana mereka cenderung dominan otak kanannya - dapat tertawa tanpa tahu penyebabnya. Tertawa, ya, tertawa. Tidak perlu itu pakai sebab. Sejatinya, itulah yang terbaik! Bukankah kegembiraan itu tidak bersyarat? Pahamilah, hanya kebahagiaan yang bersyarat Khusus soal ini, orang dewasa perlu mengangkat anak kecil sebagai suhu.
Selanjutnya, thanks God! Bersyukurlah kepada Tuhan. Lha, apa hubungannya? Hubungannya baik-baik saja. Maksud saya begini. Kita patut bersyukur, karena Dialah yang telah mendesain manusia sedemikian rupa, sehingga tertawa itu menular lebih cepat daripada menguap. Ini ilmiah. Dampaknya, manfaat tertawa pun menjalar dengan pesat. Again, thanks God! Dan sebagai wasiat pertama untuk buku ini, dengerlah wejangan seorang ekonom yang humoris ketika membuka sebuah forum, "Berpikirlah secara global, tertawalah secara lokal!" Sudahlah, jangan malu - malu. Temani saya tertawa kali ini. Toh, ane nggak ngetawain ente. Hehehe!
Do you feel Right?

RIGHT POINT #1 HUMOR

Bagaiman seru bukan, semoga mendapatkan hikmah dari point diatas dan semoga dapat menjadi pelajaran motivasi yang baik untuk kita semua. Thanks Ippho Santosa

0 Response to "Peluang Usaha Dengan 13 Wasiat Terlarang 1"

Post a Comment