Peluang Usaha Dengan 13 Wasiat Terlarang 4

Wasiat #4

Berkiaslah Seperti Binatang Jalang

metaphor
Ingat Sebelum Membaca Ini, Setiap kata yang ada pada artikel ini merupakan ciptaan dari Mas Ippho Santosa Sebagai Pakar Otak Kanan. !!! Saya hanya berbagi bersama anda, kanapa saya membagikan tiap kata yang ada di buku. Bukan intisarinya saja karena saya ingin pembaca sendiri yang menarik kesimpulan atau inti dari bacaan ini. 

Terkait cerita, ada pula kiasan ( metaphor ). Kalau gurauan berjodoh dengan permainan, maka ceita berjodoh dengan kiasan. Lazimnya diawali dengan kata 'bak', 'bagai', 'ibarat', atau 'laksana'. Tuhan dan nabi-nabi paham betul akan ketajaman cerita dan kiasan. Oleh karena itulah, melalui ayat-Nya dan dakwah para nabi ternukil bergam kiasan, "Ibarat membangun rumah di atas pasir." Dan saksikanlah sejarah. Kehidupan para penguasa, mulai dari Sulaiman, Caesar, Nero, Mao, Che Guevara, Havel, Sampai Pablo Nerude, senantiasa bertabur kiasan.
Filsuf-filsuf seagung plato, Sokrates, dan Aristoteles juga tidak mau ketinggalan. Pada 332 SM, Aristoteles sendiri menorehkan tinta di Poetics, "Hal terhebat di dunia adalah menjadi pengusaha kiasan". Serius! Ia mendaulat kiasan itu sebagai tanda kegeniusan. Menurutnya pula, seseorang memendam bakat khusus seandainya sanggup menghubungkan dua hal yang berbeda menjadi satu persamaan Kiasan dengan segala rona dan pesonanya dapat menghibur, mendramatisir, dan menyederhanakan. Oleh karena itu, orang awam pun akan menggut-manggut atas perkara-perkara yang rumit. 
Sahabat saya, seorang gadis Melayu yang cantik dari Pulau Pinang, Malaysia, sangat cerdas dan lugas memilih kiasan. Dengan kiasan, ia memuji, menyindir, bahkan memarahi seseorang. Sampai-sampai saya mengelus-elus dada ( dada saya sendiri, tentunya ) apabila melihat dia mececer seseorang dengan kiasan-kiasan. Soal kiasan, orang Melayu dan orang Padang memang tiada tanding, tiada banding.
Aku ini binatang jalang! Itulah kiasan dari almarhum Chairil Anwar yang kononnya dialamatkan keapada Indonesia yang kala itu tengah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Sampai sekarang, kiasan itu masih terasa getarannya. Dahsyat 'kan? Iklan juga tak luput dari kiasan. "Bagaikan Creambath," pesan dari sampo Rejoice. Coba pula hitung, sudah berapa wanita yang klepek-kepek lantaran kiasan-kiasan dari pria.
Di Singapura, warganya tidak diperbolehkan mengemudi dalam keadaan mabuk. ( Di mana sih yang boleh? ) Lantas, pemerintah di sana tidak semata-mata melarang, "Don't drink and drive," tetapi mereka rangkai pula, "Engkau belum siap bertemu dengan-Ku. Pesan dari Tuhan." Jadi, seolah-olah pemerintah itu adalah sabda Tuhan. Mereka di ingatkan dan sedikit ditaku-takuti dengan kematian. Nah, terbukti kiasan ini lebih "menggigit" daripada pernyataan biasa.
Sekali waktu, saya diminta untuk memeberikan konsultasi dan pelatihan untuk sebuah BPR yang mampu menampar telah bank-bank nasional di kotanya. Sebelum pulang, saya cuma berpesan singkat kepada pemiliknya yang ramah, "Bagaikan ular sawah dan naga langit. Kalau berlaganya di sawah, harusnya ular sawah yang keluar sebagai pemenang." Kiasa yang saya sadur dari pepatah China itu betul-betul mencurahkan energi dan menjulangkan kepercayaan diri seluruh staf bank tersebut. Terutama, dalam menghadang bank-bank nasional.
Sejenak, semaklah data-data berikut. Kini di Amerika, Islam adalah agama terbesar kedua, setelah Kristen. Bahasa Mandarin adalah bahasa paling banyak digunakan, setelah bahasa Inggris. Restoran China paling banyak daripada restoran McDonald's. Dan sekitar 40 tahun dari sekarang, sepertiga penduduknya adalah orang Latin dan Asia. Pertanyaannya, kiasa apa yang tepat dan akurat untuk memadatkan beragam fakta barusan? Melting Pot, begitulah jargon pakar-pakar globalisasi.

Marketing with love
Oleh : CELEBand

Hari nan suram kini telah berlalu.
Sejak kau hadir di sampingku.
Diriku tak lagi terasa hampa.
Yang kudambakan sudah bersua.

Oh kasih, percayalah...
Kesetiaanku untukmu...

Untuk nada sambung, ketik :
RING ON 2510539     Kirim ke 1212 ( Telkomsel )
SET 200053399           Kirim ke 808 ( Indosat )
10200680                     Kirim ke 1818 ( XL )

Sekilas, lirik barusan hanya cocok dilantunkan oleh seorang pria kepada wanitanya. Memang betul sih. Namun, sebagai sebuah kiasan liriknya juga cocok dilantunkan oleh pelanggan kepada pemasar, atau sebaliknya. Makanya saya namakan Marketing with love. ( Bukan Making Love, Lho! Itu sih tidak  perlu saya anjurkan dan ajarkan Pastilah Anda lebih tahu. )
Pernah suatu ketika, seorang suami yang ingin berpoligami mengarang sebuah sajak yang sarat dengan kiasan untuk istrinya.

Istriku, jika engkau bumi, akulah matahari.
Aku menyinari engkau dan engkau mengharapkan aku.

Ternyata bukan hanya bumi yang diciptakan Tuhan.

Ada planet lain yang juga mendambakan sinarku.
Jadi, relakanlah aku menyinari planet lain.
Karena sudah kodratku dan Tuhan pun tak akan marah.

Anda mau tahu bagaimana tanggapan istrinya?

Suamiku, jika engkau memang matahari, sang penebar cahaya,
aku rela engkau bagikan sinarmu kepada planet lainnya.
Akan tetapi, kusadari engkau hanya sejengkal lilin kecil, 
jadi, jangan bermimpi menyinari planet lain!

Hehehe! Demikianlah, kiasan menghibur. Kiasan mendramatisir. Kiasan menyederhanakan. Dan tolong digarisbawahi, kiasan itu bersemayam di otak kanan. Seandainya Anda tidak dikaruniai otak kanan, maka Anda akan menafsirkan kiasan 'bagai telur di ujung tanduk' sebagai 'okrobat' bukannya 'kondisi genting'. Repot 'kan? Segala sesuatu yang tersurat ( Low context ), hanya itu yang bisa dicerna oleh otak kiri. Kalau tersirat ( high context )? Itu mah urusan otak kanan.
Omong-omong, saya punya satu kiasan. Guru kencing berdiri, dua-tiga pulau terlampaui. Hayo, apa artinya? Hahaha, jangan di masukin hati! Begitulah, kiasan juga dapat merangsang muatan-muatan yang terkandung di otak kanan, semisal gurauan, imajinasi, kreativitas, dan keramahtamahan.
Kesimpulannya, otak kanan adalah rumah bagi gurauan ( humor ), permainan ( game ), cerita ( story ), dan kiasan ( metaphor ). Lebih lanjut, keempat-empatnya dapat diberdayakan untuk pengananan atau kananisasi segala sesuatu yang bersifat kiri. Ada pun dalam pemakaiannya, semuanya saling kait-mengait dan tidak bisa berdiri sendiri. Bukan cuman itu. Tidak jarang semuanya berjalan seiras dan selaras dengan perbendaharaan otak kanan lainnya, seumpama, kreativitas, imajinasi, intuisi, empati, dan keramahtahmahan. Di wasiat-wasiat berikutnya akan saya jelaskan kembali.
Berdasarkan pengalaman saya sebelumnya sebagai profesional dan dosen, pengalaman saya sekarang sebagai enterpreneur dan seniman, saya menemukan satu fenomena yang unik dan menggelitik, bahwa masyarakat yang berkomunikasi secara tidak langsung ( high context ) - seperti Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah - ternyata jago dalam bergurau, bermain, bercerita, dan berkias. Aha, inilah masyarakat kanan! Dan tanpa mereka sadari, gurauan, permainan, cerita, dan kiasan itu membuat orientasi mereka terhadap waktu sengat longgar dan kurang terencana ( polychronic ).
Tanya saja, "Mas, nanti malam datang jam berapa?" Alih-alih menjawab, "Jam tujuh," ia malah menjawab, "Habis magrib, ya!" Telatpun dipandang wajar-wajar saja bagi kedua belah pihak. Dan meeting yang harusnya bisa rampung dalam sejam, bisa berlarut-larut sampai dua-tiga jam, hanya karena gurauan, permainan ceritea, dan kiasan. Bagi mereka, itu ramah-ramah namanya. Meeting saja bisa molor begitu, apalagi pacaran!
Kebalikannya, masyaraka yang berkomunikasi secara langsung ( low context ) tidak terlalu mahir dalam bergurau, bermain, bercerita, dan berkias. Inikah masyarakat kiri? Begitulah kurang lebih. Dengan demikian, orientasi mereka terhadap waktu terhitung ketat dan lebih terencana ( monochronic ). Selama ini, buku-buku gagal memergoki kolerasi antara High context, polychronic, dan otak kanan, termasuk dengan membaca buku ini, Anda dapat mengorek semua jawaban-nya. 
Ladie and gentlement, I'll be right back.

RIGHT POINT #4 METAPHOR

Cukup sekian dulu ceritanya, semoga membantu menemukan jari diri Anda untuk terus menciptakan inovasi ataupun kreativitas baru dengan menggunakan kiasan dalam hidup Anda. Right!!!

0 Response to "Peluang Usaha Dengan 13 Wasiat Terlarang 4"

Post a Comment